Retas Sejarah

Items
Arsip

Kasus-kasus penembakan misterius (petrus) pada 1982-1985 silam kini jadi bahan pembicaraan lagi. Pekan lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan ada pelanggaran HAM berat dalam pembunuhan sistematis atas para preman dan orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan.

“Temuan ini sudah kami serahkan ke Kejaksaan Agung untuk ditindaklanjuti,” kata Ketua Tim Adhoc Penyelidik Pelanggaran HAM dalam kasus Petrus, Stanley Adi Prasetyo.

Read More

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mendorong Kejaksaan Agung membuka kasus penembakan misterius atau petrus dan membawanya ke pengadilan. Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM Yosep Adi Prasetyo mengatakan jumlah korban dari peristiwa penembakan misterius tahun 1982 sampai 1985 mencapai 10 ribu orang.

Dari sekian orang yang dianggap preman oleh pemerintah Orde Baru, seorang di antaranya adalah Trimurjo alias Kentus. Ia menceritakan betapa ia sangat menderita akibat operasi petrus. Siapa saja yang dianggap gali atau preman, pasti mati ditembak secara misterius. Satu per satu nyawa teman-temannya hilang. Ada Wahyo, Tetuko, Kojur, Iren, Slamet Gajah, Slamet Gaplek, Polimron, Peno, dan Bandi Ponyol.

Read More

Para bekas “gali” di daerah Yogyakarta yang sudah melaporkan diri, menurut pemeriksaan lanjutan ternyata pernah melakukan tindakan kriminal berangsur dikirim ke Kores Kepolisian Kowil 96 Yogyakarta untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

“Bekas ‘Gali’ DIY Berangsur Diserahkan ke Polisi”, Kompas, 22 April 1983, h. 8

Read More

Pengembangan penanggulangan kejahatan yang diawali di Kodim 0734 Yogyakarta bulan Maret lalu, yang dilanjutkan ke daerah-daerah lain di wilayah Kowilhan II Jawa-Madura, sebaiknya diikuti dengan operasi pembinaan terpadu.

“Operasi Penanggulangan Kejahatan Sebaiknya Diikuti Pembinaan”, Kompas, 30 April 1983, h. 12

Read More

* “Gali” dengan Kategori Pelajar/Mahasiswa Tercatat 30 Orang

Kriminalitas di daerah Yogyakarta menurun drastis setelah pelaksanaan operasi penanggulangan kejahatan yang sampai sekarang sudah memasuki minggu keempat. Angka perampokan, penodongan dan pemerasan menunjukkan “nihil” pada bulan April, sedang jambret dan pencurian kendaraan bermotor hanya terjadi masing-masing sekali dan dua kali selama April sampai tanggal 23.

“Kriminalitas di Yogya Menurun Drastis”, Kompas, 25 April 1983, h. 1, V

Read More

Operasi penumpang kejahatan yang dilaksanakan Kodak IX/Jawa Tengah beserta jajarannya selama empat bulan (Januari-April) ini berhasil menangkap 40 tersangka pelaku kejahatan. Tiga puluh orang di antaranya tewas, 7 luka berat dan 3 luka ringan.

“Angka Kejahatan di Jateng Menurun”, Kompas, 25 April 1983, h. 8

Read More

Penjaga malam Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Sabtu pagi menjadi korban keganasan perampok. Murwodihardjo (53 tahun) ditemukan tewas dibunuh di depan garasi mobil, tempat ia berjaga sehari-hari.

“Penjaga Malam Kampus Bulaksumur Tewas Terbunuh”, Kompas, 17 April, 1983, h. 1, XII

Read More

Saya ingin ikut nimbrung ngomong soal gali yang akhir-akhir ini menjadi hangat. Di kota Weleri, Kabupaten Kendal, kehadiran gali ini sudah lama ada, yang meskipun meresahkan tetapi lama-kelamaan jadi agak “biasa” juga. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa. Lapor polisi? Selain takut ancaman juga percuma saja, karena merekapun agaknya sudah saling mengenal. Maklum di kota kecil.

“Gali, Mafia Indonesia”, Kompas, 22 April 1983, h. 4

Read More