Retas Sejarah

Items
Berita

Sebuah karung hanyut berbau busuk mengambang di sungai Ciliwung di Jakarta Utara, Kamis sore pekan lalu. Segera orang pun berkerumun di pinggir kali, di depan kompleks Akademi Ilmu Pelayaran di dekat masjid. Bisik-bisik cepat menjalar: “Mayat korban penembak misterius”.

“Ada Dor, Ada Ya, Ada Tidak”, Tempo, 8 Agustus 1983, h. 12-16

Read More

Suatu malam pertengahan Juni lalu, sebuah jip berwarna gelap berhenti di tengah jembatan Sungai Cimedang, skitar 70 km sebelah timur Tasikmalaya, yang membatasi Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya. Beberapa penduduk yang sedang meronda melihat kendaraan tersebut berhenti sebentar di tengah jembatan, berputar, lalu ngebut kembali ke timur, arah semula jip itu datang. Peristiwa itu nyaris tak menarik perhatian jika esok harinya penduduk yang tinggal di dekat jembatan tak menemukan sesosok mayat tersangkut di akar pepohonan di tepi barat sungai.

“Jip Misterius di Jembatan Cimedang”, Tempo, 8 Agustus, 1983, h. 14-15

Read More

Tiga ratus orang lebih dibunuh. Dan rakyat bersork-sorai. Dan Dewan Perwakilan Rakyat tutup mulut. Suratkabar menghidangkan foto mayat dan riwayat yang sadis. Majalah yang berjiwa cendikiawan memberi laporan dua kali tentang dokter dan mantri yang harus membedah mayat orang yang terbunuh.

M.A.W. Brouwer, “Terjebak ke Langkah Mundur”, Tempo, 8 Agustus 1983, h. 54

Read More

Membaca tulisan Sdr. M. Madjid (TEMPO 25 Juni, Komentar), yang menyatakan tidak setuju warga Pancasilais membasmi para residivis (gali, preman, jeger, atau apa pun namanya) dengan cara seperti membabat rumput, saya berpendapat Sdr. Madjid perlu memahami Pancasila secara lebih mantap. Kemudian pengertian manusiawi jangan ditafsirkan secara sempit. Maaf, saya memvonis demikian karena saya pun perch ditatar P4 dan kebetulan mask Tiga Besar.

“Penembakan Gali: Pokoknya Kita Dukung”, Tempo, 8 Agustus 1983

Read More

Indonesia is to revisit another violent chapter of the Soeharto regime with an investigation into a campaign of extra-judicial killings by the Indonesian military between 1983 and 1985. As many as 8,000 people may have been killed during the operation, which President Soeharto sanctioned as necessary to purge the nation of criminal elements.

Presenter: Katie Hamann

Read More

Kopda Sofyan Lewa (35 tahun) dari Skodam I/Iskandar Muda yang menyebut dirinya anggota penembak misterius untuk menggaet seorang gadis, akhirnya dihukum 1 tahun 2 bulan penjara potongan tahanan, dengan perintah segera masuk.

“Mengaku Penembak Misterius untuk Mempersunting Gadis”, Masa Kini, 20 Oktober 1984

Read More

Kasus-kasus penembakan misterius (petrus) pada 1982-1985 silam kini jadi bahan pembicaraan lagi. Pekan lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan ada pelanggaran HAM berat dalam pembunuhan sistematis atas para preman dan orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan.

“Temuan ini sudah kami serahkan ke Kejaksaan Agung untuk ditindaklanjuti,” kata Ketua Tim Adhoc Penyelidik Pelanggaran HAM dalam kasus Petrus, Stanley Adi Prasetyo.

Read More

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mendorong Kejaksaan Agung membuka kasus penembakan misterius atau petrus dan membawanya ke pengadilan. Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM Yosep Adi Prasetyo mengatakan jumlah korban dari peristiwa penembakan misterius tahun 1982 sampai 1985 mencapai 10 ribu orang.

Dari sekian orang yang dianggap preman oleh pemerintah Orde Baru, seorang di antaranya adalah Trimurjo alias Kentus. Ia menceritakan betapa ia sangat menderita akibat operasi petrus. Siapa saja yang dianggap gali atau preman, pasti mati ditembak secara misterius. Satu per satu nyawa teman-temannya hilang. Ada Wahyo, Tetuko, Kojur, Iren, Slamet Gajah, Slamet Gaplek, Polimron, Peno, dan Bandi Ponyol.

Read More