Retas Sejarah

Zen RS // Teater Kekuasaan Bernama Gerhana

Kepada yang bersikeras meyakini Orde Baru adalah pemerintah terbaik sepanjang sejarah, simaklah apa yang terjadi di sekitar berlangsungnya gerhana matahari total (GMT) pada 11 Juni 1983. Dalam peristiwa alam yang begitu menakjubkan itu, Orde Baru memperlihatkan dirinya dengan terus terang: rezim teror.

Orde Baru menyiapkan diri dengan sangat serius untuk menyambut GMT yang sangat dinantikan dunia itu. Di akhir tahun sempat muncul perkiraan akan ada satu juta lebih orang asing yang akan datang ke Indonesia khusus untuk menyaksikan GMT, baik para peneliti hingga turis biasa.

Untuk menyukseskan hajat istimewa itulah, muncul operasi yang kelak masyhur dengan sebutan “penembakan misterius” atau petrus: eksekusi mati (tanpa pengadilan) kepada mereka yang ditengarai sebagai preman, bromocorah, gali, begal, jegger–kebanyakan di antaranya dicirikan oleh, atau disederhanakan cirinya, tatto di tubuh.

Operasi itu dilakukan secara setengah terbuka, tidak rapi-rapi amat, seakan dibiarkan diketahui orang. Amat banyak korban yang diambil dalam keadaan tidak sedang sendirian; meninggalkan saksi mata yang lantas mengabarkannya ke mana-mana, dari mulut ke mulut. Mayat korban pun tidak dibuang ke tempat sepi, melainkan dibuang begitu saja ke tempat-tempat terbuka.

Dimulai di Yogyakarta, pantaslah jika komandan militer di sana kala itu, tepatnya Komandan Distrik Militer 0734 Yogyakarta, Letkol M. Hasbi, didengar kesaksiannya. Kepada reporter Tempo (edisi 16 April 1983), ia dengan benderang berkata:

“Terus terang, operasi ini untuk meratakan suasana aman menjelang gerhana matahari 11 Juni mendatang. Kalau tamu dari luar negeri nanti diganggu, mereka akan berkata: ‘Jangan pergi ke Indonesia. Di sana banyak copet, garong…’ Kan kita rugi. … Pokoknya operasi akan jalan terus entah sampai kapan. Jadi, sebaiknya mereka menyerah saja. Kalau tidak, akan kami jemput”.

[…]

Beritagar, 9 Maret 2016

Continue to original article >>

 

0 comments
Submit comment