Retas Sejarah

Retas atau hack adalah praktik yang menelusuri peluang-peluang baru dari sistem yang sudah terlanjur baku dan jadi, atau resmi. Informalitas yang kerap mewarnai aktivitas ini kerap dipandang sebagai bentuk resistensi kreatif terhadap hal-hal yang dianggap mewakili kuasa otoritas, sekaligus membuka potensi pengembangan yang sifatnya konstruktif atas suatu sistem yang sudah dianggap mapan, atau bahkan jumud. Di dalam proyek ini, kami ingin mengapropriasi makna ‘retas’ sebagai upaya tawar atas pengetahuan sejarah resmi yang sudah dianggap baku, dengan melakukan pembacaan ulang atas ingatan kolektif dan pengetahuan sejarah yang beredar di tengah masyarakat dan selama ini dikonstruksi oleh negara melalui kurikulum pendidikan resmi.

Proyek ini lahir di tengah beragam kerja-kerja ingatan dan rekonsiliasi yang selama ini dilakukan berbagai organisasi dan inisiatif atas dasar tujuan mengatasi pelupaan dan menciptakan perubahan sosial menuju masyarakat sipi. Hanya saja niatan yang juga kami amini ini banyak terbentur pada tembok besar kekuasaan, negara terutama, dan meskipun hadir sebagai suara yang kritis dalam mewartakan perubahan, namun seringkali terpinggirkan dan tidak berhasil menjaring gerakan yang lebih luas yang dapat menopang perubahan yang sesungguhnya. tidak   sisi perubahan yang ingin dicapai kerapkali tidak menyentuh pokok persoalan. Yang terjadi adalah kisaran aktivitas-aktivitas yang sifatnya memorial dan retoris, seperti ‘kesepakatan damai’, pemulihan nama baik, pembayaran ganti rugi antara pelaku kekerasan sejarah dan korban dan berbagai aspek praktis lainnya, sementara jarang yang bisa menyentuh tataran perubahan perilaku dan psikologi sosial yang lebih mendasar. Seturut dengan itu, stigma dan kekerasan masih menjadi sarana utama bagi banyak pihak dalam menafsir dan menawar sejarah.

Di kalangan anak muda saja, upaya-upaya untuk mengatasi pelupaan dan mendorong pewarisan ingatan sejarah yang kritis melalui media yang dianggap populer tidak menemukan gaungnya di luar beberapa kesempatan yang sifatnya sensasional namun sementara. Ketimbang melihatnya sebagai sebentuk ketidakpedulian, kami justru melihat suatu kesenjangan antara model-model rekonsiliasi yang selama ini diinisiasi oleh banyak pihak dan kritisisme anak muda itu sendiri yang semakin termediasi. Model-model yang ada selama ini tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar seperti: “Apa perlunya anak muda melakukan/mendorong rekonsiliasi sejarah dalam konteks kebenaran yang semakin dianggap relatif?” “Siapa yang hendak mendorong rekonsiliasi dan atas tujuan apa?” “Bagaimana mengelola berbagai versi kebenaran sejarah menuju perubahan sosial yang diinginkan pada tingkat masyarakat yang lebih luas maupun negara?”.

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi acuan kami dalam mengembangkan proyek ini. Proyek ini ingin membangun bersama sebuah model pewarisan ingatan dan rekonsiliasi sejarah yang berangkat dari konteks lokal dan generasional. Ia juga diarahkan pada pngembangan cara-cara model ini diterapkan sebagai sebuah instrumen dan metode dalam dialog antar kelompok di kalangan anak muda maupun dengan masyarakat yang lebih luas. Alih-alih intensi heroik meluruskan sejarah, proyek ini lebih memilih untuk meluaskan konsep rekonsiliasi sejarah melalui pendekatan kolaboratif atas ingatan dan pemaknaan anak muda atas sejarah, menawarkan sikap terbuka atas segala kemungkinan ”meretas kebenaran tunggal sejarah” dan menumbuhkan sikap kritis serta sadar politik. Proyek ini dapat dilihat sebagai eksperimentasi kerja kolaboratif yang akan mendorong partisipasi anak muda untuk merekam dan mengkomunikasikan sejarahnya sendiri.

 

Kontak

KUNCI Cultural Studies Center
Jln. Ngadinegaran MJ III/100
Yogyakarta 55143 Indonesia
Email: editor@kunci.or.id
Web: http://kunci.or.id

 

Pendukung

tifa-logo

 

Desain

Blogum WordPress theme oleh Wpshower
Firewall Off icon oleh icon 54 (the Noun Project)
To Top icon oleh Jeremy Elder (the Noun Project)