Retas Sejarah

Items
Indeks / "Gali"

Kepada yang bersikeras meyakini Orde Baru adalah pemerintah terbaik sepanjang sejarah, simaklah apa yang terjadi di sekitar berlangsungnya gerhana matahari total (GMT) pada 11 Juni 1983. Dalam peristiwa alam yang begitu menakjubkan itu, Orde Baru memperlihatkan dirinya dengan terus terang: rezim teror.

Orde Baru menyiapkan diri dengan sangat serius untuk menyambut GMT yang sangat dinantikan dunia itu. Di akhir tahun sempat muncul perkiraan akan ada satu juta lebih orang asing yang akan datang ke Indonesia khusus untuk menyaksikan GMT, baik para peneliti hingga turis biasa.

Untuk menyukseskan hajat istimewa itulah, muncul operasi yang kelak masyhur dengan sebutan “penembakan misterius” atau petrus: eksekusi mati (tanpa pengadilan) kepada mereka yang ditengarai sebagai preman, bromocorah, gali, begal, jegger–kebanyakan di antaranya dicirikan oleh, atau disederhanakan cirinya, tatto di tubuh.

Read More

Suatu malam pertengahan Juni lalu, sebuah jip berwarna gelap berhenti di tengah jembatan Sungai Cimedang, skitar 70 km sebelah timur Tasikmalaya, yang membatasi Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya. Beberapa penduduk yang sedang meronda melihat kendaraan tersebut berhenti sebentar di tengah jembatan, berputar, lalu ngebut kembali ke timur, arah semula jip itu datang. Peristiwa itu nyaris tak menarik perhatian jika esok harinya penduduk yang tinggal di dekat jembatan tak menemukan sesosok mayat tersangkut di akar pepohonan di tepi barat sungai.

“Jip Misterius di Jembatan Cimedang”, Tempo, 8 Agustus, 1983, h. 14-15

Read More

Membaca tulisan Sdr. M. Madjid (TEMPO 25 Juni, Komentar), yang menyatakan tidak setuju warga Pancasilais membasmi para residivis (gali, preman, jeger, atau apa pun namanya) dengan cara seperti membabat rumput, saya berpendapat Sdr. Madjid perlu memahami Pancasila secara lebih mantap. Kemudian pengertian manusiawi jangan ditafsirkan secara sempit. Maaf, saya memvonis demikian karena saya pun perch ditatar P4 dan kebetulan mask Tiga Besar.

“Penembakan Gali: Pokoknya Kita Dukung”, Tempo, 8 Agustus 1983

Read More

The Indonesian Army and its precursor, the Dutch Colonial Army, had a long history of cooperation with shadowy criminal underworld gangs. The New Order regime, its intelligence organizations, the Army, political parties, and business owners all patronized petty criminals who functioned as their informants, protectors and enforcers, when needed. Soeharto’s master political strategist, Ali Moertopo, and his autonomous Opsus intelligence unit maintained an extensive network of informers and thugs. Moertopo’s bully boys provoked the January 1974 Malari riots to discredit rival Kopkamtib Commander Soemitro and engaged in arm twisting tactics to ensure Golkar victories in the 1971, 1977 and 1982 general elections. They intimidated opposition parties and frightened the public with threats of anarchy – a repeat of the 1965-1966 terror – if voters failed to fall in line behind Golkar.

Read More

One of the most remarkable episodes in the history of the New Order was the wave of state-sponsored executions of suspected criminals which took place between 1983 and 1985. In this two year period, over five thousand people, none of whom had been tried, lost their lives at the hands of highly-trained hit squads known popularly as Petrus, an acronym of penembak misterius or ‘mysterious gunmen’.

Much has been written about the repression of political dissidents in Indonesia and the military operations against armed opponents of the Indonesian state in such places as Irian Jaya and East Timor. What was unusual about the Petrus campaign is that violence was used not to silence criticism or to defend the Indonesian state from perceived threats to its integrity, but as an instrument of social policy. It was a carefully planned and orchestrated military- intelligence operation intended, in the words of President Suharto, as “shock therapy” to curb radically the incidence of violent crime.

Read More

Para bekas “gali” di daerah Yogyakarta yang sudah melaporkan diri, menurut pemeriksaan lanjutan ternyata pernah melakukan tindakan kriminal berangsur dikirim ke Kores Kepolisian Kowil 96 Yogyakarta untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

“Bekas ‘Gali’ DIY Berangsur Diserahkan ke Polisi”, Kompas, 22 April 1983, h. 8

Read More

* “Gali” dengan Kategori Pelajar/Mahasiswa Tercatat 30 Orang

Kriminalitas di daerah Yogyakarta menurun drastis setelah pelaksanaan operasi penanggulangan kejahatan yang sampai sekarang sudah memasuki minggu keempat. Angka perampokan, penodongan dan pemerasan menunjukkan “nihil” pada bulan April, sedang jambret dan pencurian kendaraan bermotor hanya terjadi masing-masing sekali dan dua kali selama April sampai tanggal 23.

“Kriminalitas di Yogya Menurun Drastis”, Kompas, 25 April 1983, h. 1, V

Read More

Saya ingin ikut nimbrung ngomong soal gali yang akhir-akhir ini menjadi hangat. Di kota Weleri, Kabupaten Kendal, kehadiran gali ini sudah lama ada, yang meskipun meresahkan tetapi lama-kelamaan jadi agak “biasa” juga. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa. Lapor polisi? Selain takut ancaman juga percuma saja, karena merekapun agaknya sudah saling mengenal. Maklum di kota kecil.

“Gali, Mafia Indonesia”, Kompas, 22 April 1983, h. 4

Read More