Retas Sejarah

Items
Indeks / "Petrus"

Kepada yang bersikeras meyakini Orde Baru adalah pemerintah terbaik sepanjang sejarah, simaklah apa yang terjadi di sekitar berlangsungnya gerhana matahari total (GMT) pada 11 Juni 1983. Dalam peristiwa alam yang begitu menakjubkan itu, Orde Baru memperlihatkan dirinya dengan terus terang: rezim teror.

Orde Baru menyiapkan diri dengan sangat serius untuk menyambut GMT yang sangat dinantikan dunia itu. Di akhir tahun sempat muncul perkiraan akan ada satu juta lebih orang asing yang akan datang ke Indonesia khusus untuk menyaksikan GMT, baik para peneliti hingga turis biasa.

Untuk menyukseskan hajat istimewa itulah, muncul operasi yang kelak masyhur dengan sebutan “penembakan misterius” atau petrus: eksekusi mati (tanpa pengadilan) kepada mereka yang ditengarai sebagai preman, bromocorah, gali, begal, jegger–kebanyakan di antaranya dicirikan oleh, atau disederhanakan cirinya, tatto di tubuh.

Read More

Justus M. van der Kroef, “Petrus: Patterns of Prophylactic Murder in Indonesia”, Asian Survey, Vol. 25, No. 7 (Jul., 1985), pp. 745-759 http://www.jstor.org/stable/2644242

Artikel ini mencoba membahas dan menyampaikan proses dan cara kerja perebutan kekuasaan territorial serta “pemberantasan” kriminalitas oleh Negara dalam bentuk keamanan lokal (siskamling) dan petrus. Van der Kroef dalam tulisannya mencoba membuat paparan umum tentang kondisi dari apa yang terjadi di masa 80-an. Konteks ekonomi politik juga dinyatakan oleh penulis sebagai latar belakang masalah kriminalitas yang muncul. Krisis ekonomi, banyaknya pengangguran, serta bahaya laten PKI disebutkan muncul sebagai latar belakang “pemberantasan” kriminalitas di masa itu. Namun dalam pembacaan saya dari tulisan van der Kroef, apa yang terjadi di masa itu terkait dengan upaya pemerintah merupakan suatu usaha pertunjukan kekuasaan dalam institusi bernama Negara.

Read More

Joshua Barker, “State of Fear: Controlling the Criminal Contagion in Suharto’s New Order”, Indonesia 66 (October 1998), pp. 7-42.

Artikel ini membahas proses perebutan kekuasaan territorial atas kriminal oleh Negara dalam bentuk siskamling dan petrus. Barker mengamati bentuk pengawasan ini pada masa orde baru di 80’an dan proses reteritorialisasi simbolik setelah kejatuhan Suharto. Dalam porsi yang minimalis dan tidak begitu spesifik, ia tak luput mendekatkan konteks ekonomi politik di jaman orde baru. Latar belakang historis diantaranya adalah: meredupnya oil boom, pemotongan subsidi energi dan makanan, demo mahasiswa, kekuasaan penting militer dan ancaman kemunculan PKI. Namun demikian, ia berpendapat bahwa momok kriminal dapat dipahami sebagai dua poin penting; gejala kelemahan Negara; dan alasan yang nyaman untuk mengatasi kelemahan tersebut.

Read More

Naskah sandiwara karya Noor WA (selesai ditulis pada 4 Maret 1986). Berlatar peristiwa Petrus, Megatruh berpusat pada kehidupan Sandrek, seorang “tukang peres, tukang todong, tukang pukul”.

[…] Cokro Gandrung: Maksudnya anu, Ndrek. Tadi pagi ada beberapa temanmu yang kemari mencarimu. Mereka bilang, keadaan sudah semakin gawat. Tiap hari pasti ada diantara kalian yang di dor.  Jadi… jadi kami mengkhawatirkan dirimu, Ndrek. Kami tidak ingin kamu juga…

Sendrek: Ooooo, itu? Pak Dhe dan kalian semua. Saya berterimakasih sekali atas perhatian kalian. Tetapi, seperti kata kang Giman tadi, bahwa mati itu bermacam-macam penyebabnya, jadi kalau saya harus mati di dalam karung yaaa ndak apa. Ndak beda kok mati di dor atau mati di kasur. Hehehehe…

Read More

Peristiwa penembakan misterius yang terjadi pada 1982 – 1985 yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan di luar proses hukum (extra judicial killing), penyiksaan, dan penghilangan orang secara paksa, dikategorikan sebagai bentuk-bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat. Peristiwa ini ditanggapi oleh Komnas HAM dengan melaksanakan berbagai rangkaian kegiatan yaitu pengkajian yaitu dengan membentuk Tim Pengkajian Dugaan Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat Oleh Soeharto, di mana salah satu isu yang dikaji adalah Peristiwa Penembakan Misterius yang terjadi pada 1981-1985. Hasil kajian ini dibahas lebih lanjut di dalam Sidang Paripurna Komnas HAM yang memutuskan membentuk Tim Pendalaman Hasil Pengkajian tersebut. Pada 2008 Komnas HAM kembali membahas hasil pengkajian dan pendalaman tim sebelumnya, dan memutuskan untuk membentuk Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa Penembakan Misterius Periode 1982-1985.

Read More

Sebuah karung hanyut berbau busuk mengambang di sungai Ciliwung di Jakarta Utara, Kamis sore pekan lalu. Segera orang pun berkerumun di pinggir kali, di depan kompleks Akademi Ilmu Pelayaran di dekat masjid. Bisik-bisik cepat menjalar: “Mayat korban penembak misterius”.

“Ada Dor, Ada Ya, Ada Tidak”, Tempo, 8 Agustus 1983, h. 12-16

Read More

Tiga ratus orang lebih dibunuh. Dan rakyat bersork-sorai. Dan Dewan Perwakilan Rakyat tutup mulut. Suratkabar menghidangkan foto mayat dan riwayat yang sadis. Majalah yang berjiwa cendikiawan memberi laporan dua kali tentang dokter dan mantri yang harus membedah mayat orang yang terbunuh.

M.A.W. Brouwer, “Terjebak ke Langkah Mundur”, Tempo, 8 Agustus 1983, h. 54

Read More

The Indonesian Army and its precursor, the Dutch Colonial Army, had a long history of cooperation with shadowy criminal underworld gangs. The New Order regime, its intelligence organizations, the Army, political parties, and business owners all patronized petty criminals who functioned as their informants, protectors and enforcers, when needed. Soeharto’s master political strategist, Ali Moertopo, and his autonomous Opsus intelligence unit maintained an extensive network of informers and thugs. Moertopo’s bully boys provoked the January 1974 Malari riots to discredit rival Kopkamtib Commander Soemitro and engaged in arm twisting tactics to ensure Golkar victories in the 1971, 1977 and 1982 general elections. They intimidated opposition parties and frightened the public with threats of anarchy – a repeat of the 1965-1966 terror – if voters failed to fall in line behind Golkar.

Read More