Retas Sejarah

Items
Index / Preman

Kepada yang bersikeras meyakini Orde Baru adalah pemerintah terbaik sepanjang sejarah, simaklah apa yang terjadi di sekitar berlangsungnya gerhana matahari total (GMT) pada 11 Juni 1983. Dalam peristiwa alam yang begitu menakjubkan itu, Orde Baru memperlihatkan dirinya dengan terus terang: rezim teror.

Orde Baru menyiapkan diri dengan sangat serius untuk menyambut GMT yang sangat dinantikan dunia itu. Di akhir tahun sempat muncul perkiraan akan ada satu juta lebih orang asing yang akan datang ke Indonesia khusus untuk menyaksikan GMT, baik para peneliti hingga turis biasa.

Untuk menyukseskan hajat istimewa itulah, muncul operasi yang kelak masyhur dengan sebutan “penembakan misterius” atau petrus: eksekusi mati (tanpa pengadilan) kepada mereka yang ditengarai sebagai preman, bromocorah, gali, begal, jegger–kebanyakan di antaranya dicirikan oleh, atau disederhanakan cirinya, tatto di tubuh.

Read More

Membaca tulisan Sdr. M. Madjid (TEMPO 25 Juni, Komentar), yang menyatakan tidak setuju warga Pancasilais membasmi para residivis (gali, preman, jeger, atau apa pun namanya) dengan cara seperti membabat rumput, saya berpendapat Sdr. Madjid perlu memahami Pancasila secara lebih mantap. Kemudian pengertian manusiawi jangan ditafsirkan secara sempit. Maaf, saya memvonis demikian karena saya pun perch ditatar P4 dan kebetulan mask Tiga Besar.

“Penembakan Gali: Pokoknya Kita Dukung”, Tempo, 8 Agustus 1983

Read More

Following a wave of violent confrontations and tit-for-tat killings, the leaders of five mass organizations-cum-urban gangs in Greater Jakarta – Pemuda Pancasila (PP), Pemuda Panca Marga (PPM), the Betawi Brotherhood Forum (FBR), the Betawi People’s Forum (Forkabi), and Badan Pembina Provinsi Keluarga Banten (BPPKB) – agreed to a ceasefire in June 2012. The violence to be shut down had erupted in the late winter and early spring of 2012, escalating and taking on ethnic overtones in March 2012 when the leader of another gang John Refra, a.k.a. John Kei, was arrested on murder charges. Fronting as a debt-collecting business, Kei’s Key Youth Force (Amkei) was centered on Moluccan migrants in Jakarta and had been clashing with rival gangs from Flores. The June gang truce, facilitated by police negotiations and mediation,for a moment seemed to turn the violence off. The gang truce paralleled a ceasefire announced by two large gangs in El Salvador – an ocean away.

Read More

Tato di rezim Orde Baru, tahun 1980-1985 diidentikan dengan preman. Kala itu, ada istilah penembak misterius atau petrus yang bertugas membersihkan para preman-preman. Tanpa ampun, mereka yang dicap sebagai penjahat menjadi sasaran pembunuhan.

Operasi bersih-bersih ini hampir dilakukan di seluruh daerah. Komnas HAM mencatat ada 2.000 korban selama petrus bergentayangan. Tahun 2012, Komnas HAM menyimpulkan petrus adalah pelanggaran HAM berat. Hingga kini siapa para petrus itu masih jadi misteri.

Read More