Retas Sejarah

Items
Index / Trimurjo

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mendorong Kejaksaan Agung membuka kasus penembakan misterius atau petrus dan membawanya ke pengadilan. Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM Yosep Adi Prasetyo mengatakan jumlah korban dari peristiwa penembakan misterius tahun 1982 sampai 1985 mencapai 10 ribu orang.

Dari sekian orang yang dianggap preman oleh pemerintah Orde Baru, seorang di antaranya adalah Trimurjo alias Kentus. Ia menceritakan betapa ia sangat menderita akibat operasi petrus. Siapa saja yang dianggap gali atau preman, pasti mati ditembak secara misterius. Satu per satu nyawa teman-temannya hilang. Ada Wahyo, Tetuko, Kojur, Iren, Slamet Gajah, Slamet Gaplek, Polimron, Peno, dan Bandi Ponyol.

Read More

Operasi gabungan pemberantasan kejahatan yang sedang dilancarkan di daerah Yogyakarta tak penah akan dihentikan. Pengejaran kepada para “gali” bakal terus dilakukan hingga warga masyarakat hilang keresahannya.

“Gebrakan di Yogyakarta akan Dilanjutkan Terus”, Kompas, 15 April 1983, h. 1, 9

Read More

Tiga penduduk Yogyakarta yang minta perlindungan hukum kepada LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta hingga Rabu malam belum berhasil menjumpai Dandim 0734 Letkol M. Hasbi di Yogyakarta. Mereka berangkat dari Jakarta. Mereka berangkat dari Jakarta Selasa petang, diantar oleh anggota LBH Maqdir Ismail SH.

“Belum Berhasil Menyerahkan Diri”, Kompas, 14 April 1983, h. 9

Read More

Tiga penduduk Yogyakarta yang “mengungsi” ke Jakarta dan minta nasihat LBH karena merasa tidak tenteram di kampung halamannya sendiri, Selasa petang pulang diantar anggota LBH Jakarta, Maqdir Ismail SH.

“Tiga Orang Bekas ‘Gali’ Kembali Ke Yogyakarta”, Kompas, 13 April 1983, h. 3

Read More